Said bin Musayab
Tokoh Tabiin, Jadikan Dunia Kendaraan Menuju Akhirat
Adakah model seorang hamba Allah yang menjadikan dunia sebagai kendaraan menuju akhirat dan membeli yang abadi dengan yang fana untuk diri dan keluarganya ?
Said bin Musayab, adalah orangnya, ahli ibadah yang sangat langka dan mencengangkan mata yang mamandanganya, patut untuk diteladani bagi sebagian kita yang mungkin tingkat ibadahnya masih “pas-pasan”.
Apa keistimewaan tokoh tabiin yang sedang kita perbincangkan ? Mau tahu jawabannya ? Berikut sedikit yang bisa diungkit tabiat tabiin itu dalam memperibadati Allah dan Rasul Nya. Shaum di siang hari, tahajud di malam hari, sempat menunaikan ibadah haji sebanyak empat puluh kali, tidak pernah ketinggalan takbiratul Ihram dalam salat jemaah selama empat puluh tahun dan tidak pernah ditemukan melihat tengkuk seseorang pada waktu salat, selama itu juga, karena selalu berada di baris pertama.
Lalu ? Lebih memilih kawin dengan putri Abu Hurairah, meski mampu mengawini wanita Quraisy yang dia kehendaki.
Sedari kecil berobsesi untuk mengabdikan dirinya kepada ilmu pengetahuan dan untuk merealisasikan obesesinya itu ia banyak menguras ilmu dari istri-istri Nabi dan dari para Sahabat seperti Abdullah bin Abbas, Zaid bin Sabit, Abdullah bin Umar, Usman, Ali, dan Shuhaib.
Dia juga mempunyai etika dan tingkah laku seperti yang dicontohkan oleh para sahabat. Dia pula orang yang paling zuhud terhadap kehidupan. Pernah suatu ketika dia menolak lamaran putra mahkota, Walid bin Abdul Malik, putra khalifah, Abdul Malik bin Marwan untuk mengawini putrinya. Dia malah mengawinkan putrinya itu dengan seorang penuntut ilmu bernama Abu Wada‘ah.
Tatkala banyak kalangan yang menyayangkan keputusan itu, dia malah berkata, “Putriku adalah amanat di atas pundakku dan aku mengambil tindakan ini demi kemaslahatannya.”
Apa komentar seorang penduduk Madinah mengenai dirinya ?, “Dia adalah seorang yang menjadikan dunia sebagai kendaraan menuju akhirat dan membeli yang abadi dengan yang fana untuk diri dan keluarganya. Demi Allah, dia bukan tidak mau mengawinkan putrinya dengan putra khalifah, atau memandangnya tidak berimbang, tetapi hanya khawatir putrinya akan tertimpa fitnah keduniaan. Suatu ketika pernah ditanya oleh seorang sahabat, ‘Apakah engkau menolak lamaran khalifah, lalu mengawinkan putrimu dengan warga muslim biasa?’ Dia menjawab, ‘Putriku adalah amanat di atas pundakku dan aku mengambil tindakan ini demi kemaslahatannya.’ Dia ditanya lagi, ‘Apa maksudmu?’ Dia menjawab, ‘Coba pikirkan jika dia berpindah ke istana Bani Umaiyah, kemudian dikelilingi oleh perabot mewah, para pembantu dan dayang-dayang, lalu suatu saat nanti dia akan menjadi istri khalifah (?, menurut penuturan sebagian ahli tarikh di zaman itu kemungkinannya adalah zaman/fase Mulkan Adlon atau Mulkan Jabariyah, pen) , bagaimana kira-kira nasib agamanya?’”
Ya, bagaimana kira-kira nasib agamanya?
Sabtu, 31 Mei 2008
Langganan:
Posting Komentar (Atom)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar